Jumat, 06 April 2012

Mesir Ancam Batalkan Perdamaian dengan Israel

coretan


(Foto: Global Research)
(Foto: Global Research)
KAIRO - Ikhwanul Muslim mengatakan, perjanjian damai antara Israel-Mesir terancam gagal jika Amerika Serikat (AS) terus memberikan tekanan terhadap Kairo.

Pernyataan Ikhwanul Muslim itu dipicu oleh sikap AS yang selama ini menekan Mesir terkait penuntutan yang dilakukan oleh pengadilan Mesir terhadap 19 aktivis asal AS. Tidak hanya itu, AS bahkan mengancam akan memotong bantuan sejumlah miliaran dolar AS ke Mesir.

"Jika AS terus mengancam Mesir terkait kasus pendanaan ilegal yang dilakukan oleh para aktivisnya, maka Kairo akan mengubah perjanjian damai Israel-Mesir seperti perjanjian damai Camp David pada 1979," ujar Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan Mesir Mohammed Morsi seperti dikutip RIA Novosti Jumat, (17/2/2012).

Sementara itu dalam pernyataan tertulisnya Ikhwanul Muslim dengan tegas mengatakan, pihaknya mendukung sikap nasionalis yang ditunjukkan oleh para pejabat Mesir atas kasus aktivis AS tersebut.

"Mesir tidak akan memberikan toleransi pejabatnya yang menyerah atas tekanan, menutupi kasus tertentu ataupun menganggu proses peradilan yang tengah berlangsung," tulis Ikhwanul Muslim dalam pernyataannya.

Ikhwanul Muslim pun mengatakan, penahanan aktivis AS itu menunjukkan bantuan AS yang diberikan kepada Mesir tidak lain digunakan untuk merusak masyarakat dan menghancurkan Mesir.

Selama ini sejumlah pejabat AS dilaporkan terus mengecam sikap Mesir serta mendesak Negeri Piramida itu, untuk membebaskan sejumlah aktivisnya yang tengah menjalani proses hukum di pengadilan Kairo.

Pemerintah Mesir mendakwa para aktivis AS tersebut atas pendanaan ilegal terhadap sejumlah kelompok LSM yang terlibat dalam berbagai aksi kerusuhan di Mesir pasca tergulingnya rezim Husni Mubarak.

Selain itu para aktivis AS itupun didakwa dengan tuduhan mendirikan cabang organisasi internasional di Mesir tanpa izin dari otoritas setempat.

AS Ingin Akhiri Konflik dengan Mesir

coretan


Juru Bicara Kemenlu AS Victoria Nuland (Foto: RIA Novosti)
Juru Bicara Kemenlu AS Victoria Nuland (Foto: RIA Novosti)
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) berharap agar konfliknya dengan Mesir terkait penangkapan 19 aktivis AS oleh Pemerintah Mesir dapat terselesaikan dengan cepat.

AS berharap pengadilan Mesir dapat segera menyelesaikan proses peradilan secepatnya guna menyelamatkan hubungan kemitraan kedua negara yang dinilai sangat penting bagi AS.

Namun keputusan pengadilan Mesir yang menunda keputusan terhadap 19 aktivis AS itu pada April mendatang disinyalir akan membawa hubungan kedua negara dalam kondisi yang lebih rumit.

"Kami terus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini secepat yang kami bisa. Kami prihatin kasus ini belum dapat terselesaikan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Victoria Nuland seperti dikutip Reuters Selasa, (28/2/2012).

Para pengamat menilai, jika kasus ini terus dibiarkan berlarut-larut maka dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang dalam hubungan AS-Mesir. Mesir dan Yordania selama ini dikenal sebagai mitra serta aliansi strategis AS di kawasan Arab yang memiliki perjanjian damai dengan Israel.

Direktur LSM Freedom untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, House Charles Dunne yang anggotanya ikut diadili di pengadilan Mesir mengatakan, meski tersandung dalam proses hukum, pihaknya akan tetap fokus untuk menyebarkan demokratisasi di Mesir.

"Apa yang dilakukan Mesir bukan perang terhadap LSM Amerika. Namun ini adalah kampanye melawan masyarakat sipil Mesir," ujar Dunne.

Penangkapan 19 aktivis AS berawal dari tudingan Pemerintah Mesir yang menyebutkan para aktivis AS itu terlibat atas pendanaan ilegal terhadap kelompok-kelompok LSM tertentu yang terlibat dalam aksi kerusuhan di Mesir pasca tergulingnya rezim Mubarak.

Mesir pun menuding, para aktivis itu mendirikan cabang organisasi internasional di Mesir tanpa izin dari otoritas setempat.

Jalin Hubungan Baik, Ikhwanul Muslim Kunjungi AS

coretan


(Foto: The Nation)
(Foto: The Nation)
WASHINGTON - Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Tommy Vietor mengatakan, untuk pertama kalinya Gedung Putih dan beberapa pejabat AS mengadakan pertemuan dengan kelompok Ikhwanul Muslim (IM) yang berhasil memenangkan pemilu Mesir.

"Pertemuan dengan Ikhwanul Muslim ini dirancang untuk memperluas keterlibatan AS dengan kelompok baru dalam politik Mesir," ujar Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Tommy Vietor seperti dikutip The Nation Kamis, (5/4/2012).

Vietor pun menambahkan, AS menyadari membangun hubungan baik dengan kelompok-kelompok yang mendukung demokrasi di Mesir adalah kepentingan yang signifikan bagi Negeri Paman Sam.

"Kami percaya bahwa adalah kepentingan AS untuk membangun hubungan baik dengan seluruh pihak yang berkomitmen terhadap prinsip-prinsip demokrasi terutama kekerasan. Dalam diskusi kami dengan Ikhwanul Muslim, kami menekankan pentingnya menghormati hak-hak minoritas, keterwakilan perempuan dan keamanan kawasan yang juga menjadi perhatian kami," tambah Vietor.

Hampir selama beberapa dekade, keberadaan kelompok Ikhwanul Muslim dilarang oleh pemerintah Mesir di bawah rezim Husni Mubarak. Namun setelah Mubarak lengser, kelompok ini dengan cepat meraih simpati publik dan berhasil memenangkan pemilu bersejarah Mesir.

Ikhwanul Muslim selama ini dikenal kerap melontarkan pernyataan keras atas Israel. Tidak hanya itu kelompok ini juga pernah mengalami gesekan dengan AS menyusul pernyataannya yang menyebutkan, perjanjian damai antara Mesir-Israel terancam gagal jika AS terus mengintervensi Kairo atas kasus penahanan aktivis AS yang ditahan oleh Negeri Piramida itu.

"Pangkalan Udara Rusia Amankan Asia Tengah"

coretan


Foto : Menlu Rusia Sergei Lavrov  (EPA)
Foto : Menlu Rusia Sergei Lavrov (EPA)
MOSKOW - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatkaan, basis militer Rusia yang terletak di Kota Kant, Kirgistan akan sangat berperan menjaga kestabilan di wilayah Asia Tengah.

Lavrov menegaskan bahwa Negeri Beruang Merah tidak memiliki agenda khusus dengan meletakkan basis Angkatan Udara di Kirgistan. Penempatan pangkalan udara tersebut juga dilakukan atas persetujuan Presiden Kirgistan Almazbek Atambayev. Demikian seperti diberitakan Trend, Jumat (6/4/2012).

Belakangan ini, komunitas internasional sempat menaruh kecurigaan terhadap Negeri Beruang Merah atas aktivitasnya terhadap Kirgistan. Rusia dituding mempersenjatai negara tersebut dengan perlengkapan militer seharga USD16 juta atau sekira Rp143 miliar. Rusia juga pernah meratifikasi perjanjian kerja sama pertahanan di perbatasan Tajikistan pada September 2011.

Tujuan Rusia memberikan persenjataan terhadap negara-negara kawasan Asia Tengah disebabkan karena Rusia masih kurang yakin atas kapabilitas negara-negara tersebut dalam mengatasi ancaman teror.

"Banyak tugas berat yang akan kami pikul. Kejahatan trans-nasional merebak di Kirgistan, kami mengetahui seberapa jauh pasukan perbatasan Kirgistan dalam menghadapi ancaman tersebut. Kami hendak mencoba untuk memperkuat kerja sama dan persabahatan kami," ujar pimpinan pasukan perbatasan Rusia Vladimir Pronichev.

Kirgistan sendiri sudah menganggap Rusia sebagai mitra terbaiknya. Kirgistan bahkan mendorong terjalinnya kerja sama antara Rusia dan bekas negara Uni Soviet di masa yang akan datang.

Obama: Strategi Perang AS Takkan Gagal di Afghanistan

coretan


Presiden AS Barack Obama (Foto: Ibnlive)
Presiden AS Barack Obama (Foto: Ibnlive)
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Barak obama menegaskan, gelombang aksi protes yang terjadi di Afghanistan terkait pembakaran Alquran tidak akan menggagalkan strategi perang AS di Afghanistan.

Ini juga tidak akan membuat AS menarik mundur pasukannya lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

"Kami telah bekerja sama dengan ribuan rakyat Afghanistan setiap harinya untuk memastikan masa depan yang baik bagi mereka. Dan apa yang terjadi selama satu pekan terakhir tidak akan menggagalkan tujuan Kami ini," ujar juru bicara Pentangon George Little seperti dikutip Associated Press Selasa, (28/2/2012).

"Kami telah membuat kemajuan. Kami telah membuat musuh bertekuk lutut di beberapa wilayah di negara itu," lanjutnya.

Pernyataan George Little itu ditegaskan kembali oleh juru bicara Gedung Putih Jay carney yang mengatakan, kekerasan yang terjadi di Afghanistan tidak akan membuat AS mempercepat kepulangan pasukannya.

Dalam pernyataannya Carney juga mengingatkan kembali alasan Presiden Obama memperpanjang kehadiran pasukan AS di Afghanistan.

"Alasan yang menjadi prioritas nomor satu mengapa AS masih mempertahankan keberadaan pasukannya di Afghanistan adalah untuk menyerang, membongkar dan akhirnya mengalahkan Al Qaeda," ujar Carney.

Sementara itu seorang Senator dari Partai Demokrat Dick Durbin justru mendesak agar Presiden Obama segera memulangkan kembali pasukan AS dari Afghanistan.

"Lebih cepat lebih baik. Tindakan yang paling benar adalah membawa mereka pulang secepatnya," ujar Senator Dick Durbin.

Juru Bicara militer AS sendiri sudah menyatakan, bahwa kekerasan akibat pembakaran Alquran di Afghanistan mulai menurun. Namun kenyataan yang terjadi menunjukkan rakyat Afghanistan masih sangat marah atas insiden tersebut.

Hal ini tampak pada beberapa laporan yang menyebutkan terjadinya percobaan bom bunuh diri serta upaya untuk meracuni makanan pasukan yang ditargetkan kepada pasukan AS.

Sementara itu aksi protes yang digelar untuk mengecam pembakaran Alquran oleh pasukan NATO itu dilaporkan juga telah menewaskan 30 warga dalam bentrokan dengan aparat keamanan.

Presiden Obama sendiri telah menyatakan permintaan maafnya yang mendalam terkait insiden itu. Namun tampaknya permintaan maaf itu tidak membantu meredakan amarah rakyat  Afghanistan

Dua Pasukan NATO Tewas Tertembak

coretan


Ilustrasi : artuproar
Ilustrasi : artuproar
KABUL - Dua pasukan North Atlantic Treaty Organization (NATO) dilaporkan tewas setelah ditembak oleh seorang warga sipil dan seorang lagi yang diyakini adalah pasukan Afghanistan di Selatan negara itu.

"Insiden itu terjadi setelah seorang pria berhasil merebut senjata dari pasukan di sebuah pos militer di Provinsi Kandahar," ujar Kepala Distrik Zhary Niaz Mohammad Sarhadi seperti dikutip AFP Kamis, (1/3/2012).

Lebih lanjut Sahardi mengatakan, pasukan NATO yang tewas itu merupakan pasukan Amerika Serikat (AS).

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) sendiri membenarkan insiden penembakan ini.

"Dua orang, yang satu diyakini adalah tentara Afghanistan dan seorang lainnya yang berpenampilan layaknya warga sipil melepaskan tembakan ke arah pasukan NATO di Selatan Afghanistan. Insiden itu menewaskan dua anggota NATO," ujar keterangan ISAF.

Pihak NATO menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut terkait insiden ini.

Jika benar korban tewas berasal dari pasukan AS maka jumlah pasukan AS yang tewas selama aksi protes mengecam pembakaran kitab suci Alquran telah bertambah menjadi enam orang.

Insiden pembakaran kitab suci Alquran oleh pasukan NATO telah mengundang reaksi berupa kemarahan dari warga Afghanistan. Ribuan orang dikabarkan turun ke jalan-jalan di negara itu untuk mengecam tindakan pembakaran Alquran. Aksi protes ini menewaskan 25 warga Afghanistan.

AS sendiri telah mengatakan, tindakan pembakaran Alquran itu adalah sebuah tindakan ketidaksengajaan

Kamis, 05 April 2012

AS Curiga Iran Terlibat Kekerasan di Afghanistan




WASHINGTON - 
Amerika Serikat (AS) mencurigai bahwa Iran berada di balik aksi kekerasan yang terjadi di Afghanistan beberapa waktu lalu. AS mengklaim Iran memerintahkan agen rahasia mereka, untuk memprovokasi warga Afghanistan.
Warga Afghanistan protes pembakaran Alquran (Foto: Getty Images)
Warga Afghanistan protes pembakaran Alquran

Tuduhan AS ini terkait dengan kerusuhan berdarah yang dipicu aksi pembakaran Alquran yang dilakukan oleh prajurit AS di Pangkalan Militer Bagram, akhir Februari lalu. Insiden tersebut menyebabkan 41 orang tewas dan 271 warga Afghanistan terluka.

Menurut seorang pejabat Negeri Paman Sam, beberapa jam setelah laporan mengenai aksi pembakaran itu dikeluarkan, agen rahasia langsung bertindak memanas-manasi warga Afghanistan. Ulah provokasi agen Iran tersebut dikabarkan dilakukan di Ibu Kota Afghanistan, Kabul dan wilayah barat negara itu.

"Untuk sebagian besar wilayah, upaya provokasi dari agen-agen Iran yang dibantu beberapa warga lokal, gagal untuk menimbulkan kerusuhan yang meluas," jelas pejabat AS yang menolak disebutkan namanya tersebut, seperti dikutip Times of India, Jumat (6/4/2012).

Tuduhan AS tersebut muncul proses investigasi yang dilakukan terhadap beberapa pejabat Pemerintah Afghanistan. Sementara seorang pejabat AS lainnya menggambarkan, pihak Kedutaan Besar Iran di Kabul sangat aktif melakukan provokasi anti-AS.

Tetapi tidak jelas apakah Iran memang sengaja membatasi upaya provokasi mereka usai insiden pembakaran Alqurant tersebut. Atau bahkan mereka memang tidak mampu melakukan operasi lain yang bisa menyebabkan kerusakan yang lebih parah lainnya.

Insiden tersebut memang menyulut kemarahan warga Afghanistan. Sesaat setelah diketahui adanya peristiwa pembakaran, warga langsung mendatangi Pangkalan Bagram untuk melakukan protes.

Presiden AS Barack Obama langsung menyatakan permintaan maafnya atas kesalahan ini. Pihak NATO pun menilai tindakan hal ini adalah sebuah ketidaksengajaan pasukan mereka yang bertugas di Afghanistan
.


widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by mendbankeld - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons